TwitterRssFacebook
Submit a New Listing

PERGESERAN DARI PEMASAR TUA MENUJU PEMASAR MUDA DENGAN POLA PIKIR YANG BERBEDA

PERGESERAN DARI PEMASAR TUA MENUJU PEMASAR MUDA DENGAN POLA PIKIR YANG BERBEDA

Tantangan yang seringkali dihadapi oleh perusahaan saat ini adalah tentang bagaimana sulitnya memadukan antara talenta dari marketer senior yang penuh pengalaman, dengan para talenta marketer generasi milenial (muda) yang lebih handal dalam dunia teknologi digital. Dan hal inilah yang menjadikan talenta pada era digital marketing menjadi sangat langka.

Apabila diamati dengan seksama, maka kita banyak menemukan berbagai kebutuhan tentang sumber daya manusia yang masih fresh (muda). Sebenarnya memang sudah dari dulu demikian adanya. Namun, dahulu senioritas dari sisi usia masih dianggap yang paling unggul. Hal ini karena para senior dianggap sudah merasakan banyak sekali makan asam-garam dan penuh pengalaman yang lebih aplikatif yang terbentuk secara otomatis dari lapangan. Namun pada era digital seperti sekarang, fenomena seperti itu bisa jadi sudah berbeda.

Jika menengok Negara Eropa, kebutuhan akan tenaga kerja muda digital marketer di sana sudah mencapai angka 40%. Dan ini berarti bahwa 1 dari 10 perusahaan sudah mulai mengandalkan sumber daya manusia dengan usia lebih muda bahkan untuk lulusan baru sekalipun, dengan mengusung keahlian digital marketing.

Survei dari Barclays, UK, juga mengungkap hal yang serupa. Menurut survei tersebut, digital marketer muda siap pakai yang semakin dibutuhkan, jika dibandingkan dengan perusahaan yang harus melatih kembali karyawan mereka yang sudah lama ada. Perusahaan akan mengalami kesulitan dalam mengasah keahlian digital dari para karyawan senior. Alasannya adalah, karena rata-rata investasi perusahaan untuk keperluan training berhubungan langsung dengan bidang digital yang memang masih rendah.

Sedangkan kondisi di Indonesia pun relatif sama. Kebutuhan akan sumber daya manusia yang cukup menguasai dalam digital marketing masih relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan luar negeri, namun angkanya akan terus semakin meningkat dari tahun ke tahun mendatang. Investasi perusahaan untuk keperluan digital marketing pun masih berkisar pada angka 10 sampai hanya belasan % saja. Namun, bukan tidak mungkin jika dalam waktu singkat ke depannya, angka itu akan terus meningkat tajam.

1-1024x768

Talenta Muda dan Talenta Tua

Mencermati generasi marketer tua dan muda, mereka memiliki pola pikir yang berbeda. Generasi muda seringkali lebih menyukai segala sesuatu yang serba instan, serta sangat adaptif terhadap adanya perubahan, terutama yang sudah berhubungan dengan teknologi. Sementara generasi marketer tua dianggap masih kurang mampu dalam mengimbangi perkembangan teknologi, dan juga kurang mampu dalam memahami perilaku para konsumen yang relatif jauh lebih muda dari mereka.

Jika diamati contoh isu lama, bahwa bisa terihat saat perusahaan Sony dari Jepang yang menerima pukulan telak dari berbagai pesaingnya yang berasal dari Korea, termasuk juga perusahaan Samsung. Generasi tua yang berada di Sony Jepang dianggap masih kurang bisa dalam menyesuaikan diri dengan adanya berbagai perubahan perilaku pasar yang lebih banyak dipenuhi oleh para generasi milenial saat ini. Sementara Samsung selalu tampil lebih menonjol  dengan ide-ide segarnya dan akan langsng membanjiri pasar local dengan berbagai versi produk teknologi terbarunya.

Meskipun demikian banyak juga diantara para pekerja yang merasa khawatir karena kurang terampil atau bahkan tidak memiliki keahlian apapun dalam bidang digital, sebagian besar dari mereka masih tetap belum mengeluarkan usaha yang maksimal dalam membangunnya. Dan ini bukan saja karena masih kurangnya keahlian, namun juga sudah menyangkut perbedaan pola pikir maupun kesiapan dari setiap individunya untuk bisa berubah dengan cepat.

Setiap Generasi Pemasar Memiliki Kelebihan dan Kekurangannya Masing-Masing

Para marketer senior (yang sudah berumur) menganggap digital marketing belum menjadi perhatian utama bagi perusahaan saat ini. Namun, kalangan milenial menyadari bahwa keahlian (skill) digital memiliki demand yang sangat tinggi. Namun sayangnya generasi seperti ini masih belum dibekali tentang adanya pemahaman tentang konsep pemasaran serta jam terbang yang masih cukup tinggi.

Dan inilah penyebab utama terjadinya gap diantara kebutuhan digital marketing skill dengan supply tenaga profesionalnya yang ada semakin besar. Padahal semakin banyak perusahaan yang sedang mencari terobosan baru untuk dapat melejit di tengah ketatnya persaingan dunia bisnis yang sudah semakin red ocean. Mereka berharap akan ada suatu terobosan inovasi yang dapat dilakukan melalui digital marketing, sehingga setidaknya mereka masih dapat meraih market share sebanyak mungkin dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Semakin banyak perusahaan yang ingin memburu bakat-bakat muda yang piawai dalam hal digital marketing, seperti social media specialist, digital marketing officer, atau online community specialist. Tidak terkecuali pada bagian board of directors (BOD) pun masih bisa dan sudah mulai diisi oleh generasi milenial yang lebih kompeten dalam hal keahlian digital dan tetap adaptif terhadap adanya perubahan teknologi. Bukan saja sudah mencakup bisnis swasta, namun fenomena seperti juga sudah mulai banyak merambah instansi pemerintahan, pendidikan, infrastruktur, dan lain sebagainya.

Meskipun generasi marketer yang milenial akan mampu dalam mendapatkan ratusan “like” hanya dalam waktu beberapa menit saja, namun mereka belum tentu memiliki pemahaman tentang pemasaran, komunikasi, bisnis, dan juga termasuk brand sedalam pemahaman generasi para seniornya. Tanpa adanya pemahaman tentang pasar, strategi, dan lain sebagainya, semua keahlian digital yang mereka miliki hanya akan sia-sia saja. Beberapa perusahaan telah mengakalinya dengan meng-outsource segala keperluan digital marketing mereka sambil tetap terus menggali segala ide dan strategi dari internal organisasinya.

Memang tenaga digital marketing dapat di-outsource kan, namun hasil atau standarnya masih belum tentu bisa sebagus apabila dikerjakan secara internal. Hal ini karena koordinasi diantara staff internal dan pihak outsource tidak bisa semudah yang dibayangkan, mengingat begitu banyaknya faktor yang mempengaruhi, mulai dari penciptaan dan pematangan strategi, sampai kepada tahap eksekusinya.

 

 

 

Groedu Inti Global Inovasi (Groedu Trainer Pelatihan Pemasaran Bisnis)

Cito Mall – Jl. A. Yani 288 (Bunderan Waru), Lantai UG, US 23, No. 3 & 5 Surabaya.

Hp : Frans : 0818521172
Office (only call no sms)  : 081-59417699
Fast Respon Email : groedu_inti@hotmail.com

Submit a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>